CERPEN “GADIS BERUPA BURUK”


Wajah Katie tidaklah cantik. Rambutnya tipis. Matanya berwarna pucat. Begitu pula pipinya,karena sejak kecil Katie kekurangan makanan bergizi. Tubuhnya kurus,dan karena matanya lemah,Katie harus memakai kaca mata.

Bajunya tidak pernah pas pada tubuhnya. Kadang-kadang kebesaran dan kadang-kadang kekecilan. Maklum, baju yang dipakai Katie adalah baju bekas orang lain. Itu pun sering bertisik dan bertambal.

Ketika pertama kali masuk sekolah,Doreen  memandang jijik pada gadis yang buruk rupa itu. “Astaga!” katanya kepada Freddie, “Apa kerja gadis itu di sini? Alangkah jelek rupanya. Dan pakaiannya -hmm, seperti gembel.”

“Aku senang pada Katie,” ucap Freddie,” dengan segera. “Nanti sore ia kuundang minum teh di rumahku.”

Semua anak senang pada Katie. Aneh, pikir Doreen, mereka senang berteman dengan gadis miskin yang pakaian dan wajahnya jelek seperti itu. Apa sebabnya?

“Katie baik,” jawab Alice ketika Doreen bertanya mengapa ia selalu ingin duduk di samping Katie. Lalu Doreen bertanya kepada Jim, mengapa jim selalu pulang bersama-sama Katie dan tidak pernah bersamanya?

“Yah – Katie sangat manis,” ucap Jim.

“Tapi, dia, kan, tidak cantik. Dan lagi bajunya kumal bertambal-tambal,” kata Doreen.”Aku, sih, tidak mau dilihat orang berjalan bersama anak semacam Katie.”

“Ah, hal-hal seperti itu tidak ada lagi artinya bila dibandingkan dengan kebaikan Katie,” ujar Ann. “Aku tak pernah memperhatikan pakaiannya yang usang dan wajahnya yang kurang cantik – aku merasa senang bersamanya, karena dia selalu berlaku manis.”

“Tak masuk akal,” pikir Doreen.”Masa kebaikan bisa menutupi wajah buruk dan pakaian jelek! Ah, menurutku Katie menjijikkan.”

Katie memang baik hati. Dialah yang paling cepat memberi pertolongan bila ada seseorang jatuh. Dialah satu-satunya yang membawa anak itu masuk dan merawat lukanya. Katie sering tinggal di sekolah menemani anak yang dihukum karena pekerjaannya buruk. Katie tidak segan-segan membantu mereka.

Di rumah Katie tidak ada kebun bunga yang indah seperti di rumah teman-temannya. Itulah sebabnya Katie tidak bisa membawakan bunga yang bagus untuk Bu Guru Brown di kelas.

Walaupun demikian, Katie sering pergi ke hutan dan memetik bunga-bungaan liar. Ia bangun pagi-pagi sekali,  lalu mencari jamur atau buah berry hitam untuk Bu Guru Brown.

“Kau benar-benar seorang anak yang manis, Katie,” ujar beliau.

Katie selalu menjenguk bila ada temannya yang sakit . Dan untuk menghibur hati mereka , Katie membawakan mainannya , walaupun mainan itu sudah usang . Katie tak pernah merasa malu , dan ia mau mengerjakan apa saja yang bisa dikerjakannya . Dirumah , Katie mengasuh adik-adiknya dengan sabar . Ia tak pernah memarahi mereka . itulah sebabnya adik-adiknya sangat mencintainya .

Nampaknya tidak ada seorang pun yang memperhatikan bahwa Katie miskin , bertubuh kurus , dan berwajah tak cantik . Semua ingin berteman dengannya , mengundang minum teh walaupun ia tak pernah bisa membalas mengundang teman-temannya dating minum teh dirumahnya.

Meskipun begitu , Doreen tetap tak bisa menyukai Katie.Ia merasa malu bila di lihat orang bersama Katie. Kalau saja Katie punya baju-baju yang agak bagus, rambutnya agak keriting, dan tubuhnya tidak kerempeng.Tetapi Katie tetap Katie- ia kurus,buruk,dan miskin.

Pada suatu hari, ketika Doreen sedang memetik buah bery hitam, seekor anjing mengejarnya sambil menyalak-nyalak. Doreen berlari menerobos rumpun tanaman berry dengan ketakutan.

Gaunnya tersangkut pada ranting berduri dan lengannya tergores. Anjing tadi masih terus menyalak-nyalak. Doreen berteriak ketakutan.

Untunglah ada orang lain yang sedang memetik buah berry di situ. Ia memetik di sisi lain rumpun berry dari tempat Doreen memetik berry. Orang itu adalah Katie. Katie mendengar jeritan Doreen. Ia pun segera merangkak menerobos rumpun tumbuhan berry ketempat jeritan tadi.”Oh, kaukah itu Doreen?”tanyanya terkejut.”Jangan takut, akan kuusir anjing itu.”

Katie mengusirnya dan anjing itu pun berlari menjauh.”Lihatlah gaunku,” katanya. “Sobek dimana-mana. Dan lihat pula tangan dan kakiku- penuh dengan goresan luka. Bukan hanya itu-buah berry hasil petikanku jatuh semua.”

“Jangan risaukan itu,” sahut Katie.”Ambilah buah berryku ini. Aku masih bisa memetik lagi.Nah, sekarang ikutlah aku pulang supaya ku bisa rawat lukamu. Rumahku tak jauh dari sini.”

Betapa senang dihibur dengan kata-kata manis begitu pada saat kita membutuhkannya! Maka Doreen pun mengikuti ke rumahnya. Katie mencuci tangan dan kaki Doreen. Kemudian luka-lukanya diobati. Setelah itu Katie mengambil jarum dan benang. Di jahitnya gaun Doreen yang sobek dengan rapi dan teliti hingga jahitannya hampir tak tampak sama sekali.

“Oh, terima kasih,” ucap Doreen. Tiba-tiba Doreen menjerit,”Oh, Katie! Brosku hilang. Oh, Ibu pasti marah kepadaku!”

“Nanti isa di cari sambil pulang ke rumahmu,” sahut Katie.”Jangan khawatir. Aku akan menemanimu mencarinya.”

Maka keduanya pun pergi dari rumah Katie dan mencari bros Doreen di sepanjang jalan. Tiba-tiba Katie melihatnya!

“Itu dia,” serunya sambil berlari ke antara rumput-rumput yang tinggi.

“Oh,Katie-betapa lega rasanya hatiku,” ucap Doreen. “Terima kasih banyak. Sekarang aku harus cepat-cepat pulang.”

“Nih, bawalah keranjang buah berryku,” Katie berkata. “Tidak apa-apa. Punyamu sudah tercecer dan rusak semua. Aku masih bisa memetik lagi. Ambillah punyaku,Doreen. Dari balik kacamatanya, mata Katie bersinar lembut dan tulus. Doreen memandanginya.”Dan,astaga! Yang terlihat olehnya bukanlah seorang gadis kurus berpakaian kumal lagi! Ia sekarang melihat Katie Yang sesungguhnya. Katie yang manis, baik, dan murah hati. Kebaikan dan ketulusan hatinya seolah bersinar menutupi kejelekan wajahnya serta kemiskinannya.Ia jadi kelihatan cantik dan menyenangkan.

“Kau manis sekali, Katie,” ujar Doreen.” Aku senang sekali kepadamu. Maukah kau jadi temanku?”

Katie terkejut.”Oh, selama ini kukira kau tidak menyukaiku,” Katie berkata. Kemudian lanjutnya sambil tersenyum,”Syukurlah kalau memang kau senang kepadaku.”

“Kau anak yang paling manis di sekolah,” tambah Doreen.” Aku tak tahu mengapa harus baru sekarang aku menyadarinya.”

Keesokan harinya Doreen tidak lagi memperhatikan bahwa rambut Katie tipis, pakaiannya kumal, Dan kacamatanya tebal. Yang tampak olehnya hanyalah Katie yang manis, Katie yang di cintai oleh semua teman di sekolahnya.

Lucunya,ketika ada murid yang mengatakan,” Betapa jeleknya tampang si Katie!” Doreen marah sekali.

“Apa maksudmu?” katanya.” Aku menyukai Katie. Katie anak yang baik.”

Betapa senangnya bila ada teman mengatakan begitu mengenai diri kita!

Tinggalkan komentar

Filed under Sastra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s